Anshar Aminullah

Beberapa hari ini peristiwa kelangkaan minyak goreng juga dibarengi dengan kelangkaan BBM jenis Solar cukup marak terjadi di Sulsel. Dua kebutuhan fundamen yang nyaris membuat sebahagian masyarakat kita nyaris frustasi mencari kedua barang ini.
Dikalangan emak-emak, ketidakmampuan untuk menahan gejolak bathin ketika masakan genre gorengan tidak ada di meja adalah hal yang sulit dihindari. Saya ingat kata teman saya, seorang emak-emak dari tiga orang anak, adakah yang lebih enak dari gorengan? Tak sempurna rasanya masakan buat keluarga jika bahannya tak melewati proses di wajan dengan alunan suara mendidihnya minyak goreng.
Sementara di lain sisi, kelangkaan solar cukup berdampak terhadap distribusi berbagai bahan kedaerah-daerah, oleh karena mobil besar dengan muatan banyak bernama truk bahan bakar utamanya adalah solar. Beberapa mobil keluarga pun masih banyak berbahan bakar solar, yang otomatis berdampak pada aktivitas keseharian keluarga yang mengharuskan menggunakan kendaraan mobil. Ini menjadi PR tersendiri memang bagi bapak-bapak didalam mensupport rutinitas dalam keluarganya.

Kelangkaan solar pada negara kita yang tergolong kaya dengan minyak, kadang memunculkan kebingungan tersendiri yang sulit untuk dijelaskan.
Penyerbuan kaum emak-emak di mini market-mini market buat berebut stok minyak goreng kemasan juga membuat kita miris. Negara dengan status penghasil sawit terbanyak di dunia sejak 2006 kok mengalami kelangkaan minyak goreng? ibu-ibu rumah tangga di Indonesia sepertinya akan menjalani ramadhan penuh was-was, oleh karena masakan mereka terancam tak mencapai hasil maksimal dimana minyak goreng berpotensi tak menjadi salah satu bahan yang tersedia selama sebulan.
Kelangkaan solar juga cukup membuat was-was. Jika para pengusaha angkutan terpaksa beralih ke Dexlite, maka otomatis akan terjadi penyesuaian harga pada barang-barang lain, dan endingnya dalam kelar sudah hidup susah kita.

Dari Penimbunan ke Antrian Panjang

Ada semacam pereproduksian ketidak-teraturan di dalam praktik-praktik sosial. Penimbunan yang dilakukan oleh oknum-oknum tertentu mampu membawa pelakunya memperoleh apa yang dikehendakinya, berupa keuntungan sepihak yang tak menyentuh moralitas secuilpun. Semata-mata memperturutkan hawa nafsunya. Jika pelakunya seorang muslim, mungkin ini menjadi sebuah latihan yang buruk sebelum memasuki bulan ramadhan.
Relatif tak mudah untuk mendeskripsikan dan mematahkan pemahaman-pemahaman yang membentuk permainan kaum penimbun ini. Mereka berhasil menciptakan pada masyarakat sejenis kebingungan serta kemarahan. Dan pada pemerintah, mereka mampu menggiring upaya-upaya keras dalam memulihkan situasi.

Pada beberapa masyarakat kita yang tidak detail mengenal persoalan yang mengakibatkan kelangkaan ini, di benak mereka tidak jauh dari bagaimana cara memperoleh stok yang cukup untuk kebutuhan dapur dan kebutuhan bahan bakar kendaraan. Ini menjadi pelengkap dari keluhan-keluhan mereka sepanjang hari, yang pada akhirnya makin memperuncing persoalan beban psikis dalam hidup mereka.
Adalah hal yang beresiko jika mencoba memberikan stimuli agar mereka memahami bahwa sejumlah besar persoalan ini merupakan pengetahuan dan pengalaman yang berguna. Insya Allah ada hikmahnya. Ini sama saja dengan mencari gara-gara. Sebab dikalangan pengantri yang berilmu pada kedua bahan tadi, berpasrah dan bertawakkal tanpa didahului dengan usaha mungkin tetap saja akan mengalami kebuntuan. Bahkan akan cenderung mendapat respon jengkel dan reaksi-reaksi kasar subjek yang akan terlontar pada orang yang mencoba menasehatinya.
Tak bijak memang mencoba meredam kekalutan masyarakat kita dengan nasehat disaat pemerintah justru memiliki cara paling efektif dalam menyelesaikan persoalan kelangkaan ini. Meskipun dalam banyak kasus, umat dan masyarakat di Indonesia lebih karib untuk didekati dengan metode-metode kultur yang muatan utamanya adalah spiritualitas.
Mendorong pemerintah agar segera mengambil langkah strategis dalam mengatasi kelangkaan ini harus giat dilakukan. Sebab jika kelangkaan ini terus berlarut-larut, ini berpotensi menciptakan hal-hal yang destruktif terhadap kesehatan mental, jiwa dan kebudayaan masyarakat.
Mempercepat ketersediaan stok solar dan minyak goreng yang cukup dipasaran akan menjadi langkah yang tepat dan sanggup menghindarkan antrian panjang The Power of Emak-emak yang acapkali mengeluh dengan teriakan lantang “Sessajaki!!”.

Artikel ini telah dimuat sebelumnya di https://sulsel.herald.id/2022/03/13/papa-antre-solar-mama-antre-minyak-goreng-sessajaki/

By Anshar Aminullah

Lecturer Indonesia Timur University, Senior Researcher, Analyst Politic, Sociologist