Anshar Aminullah

Beberapa minggu ini Indonesia masih diramaikan dengan berbagai isyu yang trend di media sosial. Dari perkembangan kasus persidangan FS, laporan ijazah palsu, pencalonan mantan Gubernur Jakarta sebagai Capres, penangkapan wanita bercadar dengan tuduhan hendak menerobos dan menembak di Istana Presiden, dan yang terakhir artis NM yang dengan style pakaian sedikit seksinya yang mulai menikmati kehidupan baru di Rutan. Persoalan sosial-politik dan keamanan yang tak pernah habisnya. Seolah bangsa kita ini berputar di circle itu itu saja, tak ada pergerakan maju, kita asyik dengan saling menggoreng dan kukuh terhadap pendirian berdasarkan pilihan politik dan persepsi sendiri-sendiri atas bacaan media dan tontonan kita masing-masing.
Dibeberapa daerah masih sibuk dengan isyu yang dianggap keren soal Metaverse, sementara pasca ditinggal boss penanggungn jawabnya, Vivik Salma yang juga Wakil Presiden Horizon, kini Meta diketahui bertaruh mati-matian untuk mega investasinya pada Metaverse, dunia yang bisa diakses orang lewat Virtua Reality dan teknologi augmented reality. Meta sedang di posisi yang cukup dilematis, antara terus mengembangkan ataukah mundur perlahan. Lah… Sementara di beberapa wilayah di negeri +62 justru masih giat berdiskusi menjadikannya sebagai sesuatu yang keren sekaligus proyek masa depan di kotanya.

Di beberapa forum diskusi dan online yang diselenggarakan oleh lembaga riset internal Harvard Kennedy School maupun Stanford University, yang undangannya melalui email dari beberapa pertemanan saya disebuah jejaring sosial. Nampak tema serta isyu-isyu yang didiskusikan jauh melampaui dari apa yang sedang kita perdebatkan di negeri ini. Mereka adalah sekelompok pemuda yang konsen dipengembangan Teknologi Artificial Intelligence, riset sosial-ekonomi yang sangat update dibandingkan ilmu-ilmu yang beredar dalam dunia kampus kita sekarang ini. Kelompok kaum muda ini memang beruntung dibesarkan dalam lingkungan yang selalu mencoba bergerak maju dan tak mempersoalkan hal-hal yang bersifat perdebatan yang tak ada ujungnya. Mereka adalah generasi muda yang tak akan pernah peduli dengan prank nasional yang dilakukan publik figur LST dan R.B.

Ini bukan membandingkan, ini adalah sebuah upaya guna menarik kembali generasi muda kita untuk lebih fokus membangun bangsa ini, kembali bergerak dari gerakan struktural ke gerakan kultural untuk kemajuan anak bangsa dimasa mendatang. Kita punya potensi SDA dan SDM yang tidak kalah bagus dari orang-orang diluar sana. Saatnya membersamai upaya mengembalikan bangsa ini yang telah tercerabut dari akar sejarahnya menuju kepada sebuah kesadaran, bahwa bangsa ini harus kembali on the track dalam upaya gerak majunya menuju sebuah peradaban. Sebab bangsa ini adalah titipan generasi mendatang, soal maju atau mundurnya semua ada ditangan kita sekarang ini. Tepat di 94 Tahun HUT Sumpah Pemuda, Kaum muda kita sekarang harus memilih diantara dua pilihan, kembali ke semangat Sumpah Pemuda, atau Pemuda yang di ‘Sumpahi’ oleh semangat generasi yang akan datang. selanjutnya terserah anda!

Artikel ini sebelumnya telah tayang di :
https://herald.id/2022/10/27/pilih-sumpah-pemuda-atau-disumpahi-pemuda/

By Anshar Aminullah

Lecturer Indonesia Timur University, Senior Researcher, Analyst Politic, Sociologist