27 April menjadi hari istimewa. Saat mencoba mengawali tulisan ini, sebuah narasi sederhana untuk publik figur yang berstatus tak pernah saya jumpai langsung. Beberapa tahun terakhir namanya sangat familiar ditelinga saya bahkan di seluruh pelosok negeri ini.
Secara khusus, kuat keinginan menulis fragmen yang menurut saya paling istimewa dari sosok ayah dari empat orang anak ini. Oleh karena itu, saya coba memulai dari sebuah angle yang sederhana saja.
Beberapa tahun sebelum siaran analog mengakhiri kejayaannya, dan dua tahun sebelum stroke membuat ayah kami terbaring tanpa daya di tempat tidur, bapak kami selain gemar melibatkan secara diam-diam kami bersaudara dalam doa-doa panjangnya, dia juga gemar memberikan sinyal simbolik untuk belajar banyak pada tokoh yang sedang dia tonton di televisi.
Dengan posisi volume suara nyaris diangka 50 persen. Dari sekian banyak siaran TV pilihan almarhum, dua yang paling menarik animonya, jika bukan acara yang berdebat bertema politik dengan urat leher seolah nyaris putus, dan yang paling dia suka adalah saat menonton tokoh nasional asal Sulawesi Selatan, Jusuf Kalla. Ayah kami adalah salah satu fans garis keras mantan Wapres RI ini.
Selain pak JK, ayah kami ini cukup sering memencet remote tv hanya untuk mencari siaran yang menayangkan seseorang yang kala itu masih tergolong baru terdengar kiprahnya dalam kabinet di pemerintahan.
Seorang menteri Presiden Jokowi di periode pertamanya yang sedang berbicara menjelaskan tentang kondisi pangan dan berbagai hal bertemakan pertanian di Indonesia.

Dari beberapa kali saya ikut serta melihat tayangan wawancaranya, tampilan dan gesture di depan awak media, kesederhanaan dan perangai bersahajanya terlihat masih cukup dominan.
Bukan karena dia sedang mengenakan kemeja putih tanpa motif tambahan, namun oleh karena secara tegas ada yang tersirat pada tatapannya, perihal kedernawanannya yang tersimbolkan secara eksplisit dari perilaku berbagi kesesama yang masih dia rawat hingga sekarang.
Pun juga tak lepas wibawanya yang masih mencerminkan bahwa dia berasal dari keluarga yang tak kenal kata menyerah melawan kerasnya gelombang kehidupan.
Namanya Andi Amran Sulaiman. Salah satu tokoh Nasional asal Sulawesi Selatan yang hari ini memasuki usia dengan angka istimewa, 55 Tahun.

Sederhana dan Menginspirasi

Dalam teks ini, kita mungkin bersepakat, bahwa jauh sebelum menjadi seorang bayi, posisi kita adalah sebagai manusia yang telah memiliki pengetahuan yang cukup prima perihal muatan ruang serta waktu.
Meskipun dalam proses perjalanan menjalani kehidupan ini, kita juga tetap butuh tempat untuk mencari inspirasi kehidupan dan belajar banyak tentang bagaimana menjalani dinamika hidup, sebuah tempat belajar non formal bernama “Institusi kehidupan” yang hadir diantara kelas-kelas pendidikan formal pada sekolah dan kampus.
Dan salah satu ‘institusi’ kehidupan itu adalah kisah kehidupan Andi Amran Sulaiman perihal bagaimana dia bergelut dan berdinamika dengan kerasnya kehidupan ekonomi masyarakat kelas menegah kebawah yang mengantarkannya hingga ke titik sekarang ini.

Penggalan kisah seorang Amran kecil diusia 9 tahun, yang harus membanting tulang dengan bekerja memecah batu gunung lalu kemudian dia jual kepada pemilik proyek yang masih memiliki iba untuk membelinya.
Dengan hasil itu setidaknya bisa membantu menyambung hidup bagi keluarganya.
Bagi Andi Amran Sulaiman kecil, saat itu telah berada pada sikap tawakkal, perihal garis takdir Tuhan yang telah memberi kepercayaan sepenuhnya kepada manusia, serta percaya kepada ‘iktikad’ Tuhan untuk kebaikan hambaNya, dimana ‘itikad’ itu sudah disertai bonus berbagai perangkat penunjang agar kita tidak tertinggal, tidak terbelakang, tidak inferior, atau menjadi orang buangan yang digilas dan tersingkirkan dari peradaban di bumi.
Jika memiliki waktu senggang, cobalah sempatkan tatap seksama sorot mata seorang AAS, entah itu di televisi, Youtube, ataupun jika beruntung saat dapat bersua langsung dengannya.
Sorot mata itu dengan jelas menegaskan bagaimana dibalik kedermawanannya kepada banyak orang, itu bukan hanya sinyalemen kebaikan tulus semata dan atau cerminan dari harta lebih yang dimilikinya sekarang ini.
Namun binar matanya yang tegas menatap, itu juga merupakan simbolik perihal bagaimana kemampuan istiqomahnya dalam menjaga hikmah kehidupan dari perjuangan masa lalunya.
Hidup tanpa harta yang cukup andai menjadi sebagai sebuah pilihan hidup, pasti siapapun akan menghindari memilihnya.

Dan terlahir dari keluarga veteran yang tak bisa berharap banyak dengan uang pensiunan nominal Rp 100 ribu per bulan dari seorang ayah yang berusaha menghidupi seorang istri dan 12 orang anaknya, telah menjadi sebuah takdir yang ikhlas diterima dan telah mampu dijalani oleh keluarga Andi Amran Sulaiman dimasa lalu.
Mungkin hari ini secara sosial-politik khalayak melihatnya sebagai “Mutiara dari Timur”, seseorang yang masih teguh memegang prinsip “kita boleh saja terlahir miskin, namun jangan sampai kita juga mati sebagai orang ‘miskin’.
Tetapi kelak, di masa depan, khalayak akan selalu mengenangnya sebagai figur yang akan selalu menginspirasi kaum muda Indonesia agar selalu merawat mimpi-mimpinya ditengah segala keterbatasan yang dimiliki.
Dan kelak, dia juga akan selalu dikenang sepanjang waktu, dimana spirit peninggalannya akan hadir untuk menegaskan kepada setiap kaum muda yang nyaris menyerah saat berada di tempat sulit dan segala sesuatu menentangnya, saat kondisi membuatnya merasa tidak akan mampu bertahan lebih dari semenit lagi, saat itu, semangat seorang Amran Sulaiman kecil akan hadir agar jangan pernah menyerah, karena justru itulah tempat dari waktu ketika gelombang akan berbalik.

55 Tahun AAS! tetaplah menjadi figur yang menginspirasi bagi kami para generasi muda dan anak bangsa.

Artikel ini telah tayang di Tribun-Timur.com dengan judul AAS, Inspirasi Kaum Muda Indonesia, https://makassar.tribunnews.com/2023/04/26/aas-inspirasi-kaum-muda-indonesia

By Anshar Aminullah

Lecturer Indonesia Timur University, Senior Researcher, Analyst Politic, Sociologist